Sta. Rosa da Lima;
St. Filipus Benizi
Bacaan I: Rut. 1:1.3–6.14b–16.22
Rut dan Naomi
1:1 Pada zaman para hakim memerintah ada kelaparan di tanah Israel. Lalu pergilah seorang dari Betlehem-Yehuda beserta isterinya dan kedua anaknya laki-laki ke daerah Moab untuk menetap di sana sebagai orang asing.
1:3 Kemudian matilah Elimelekh, suami Naomi, sehingga perempuan itu tertinggal dengan kedua anaknya. 1:4 Keduanya mengambil perempuan Moab: yang pertama bernama Orpa, yang kedua bernama Rut; dan mereka diam di situ kira-kira sepuluh tahun lamanya. 1:5 Lalu matilah juga keduanya, yakni Mahlon dan Kilyon, sehingga perempuan itu kehilangan kedua anaknya dan suaminya. 1:6 Kemudian berkemaslah ia dengan kedua menantunya dan ia pulang dari daerah Moab, sebab di daerah Moab ia mendengar bahwa TUHAN telah memperhatikan umat-Nya dan memberikan makanan kepada mereka.
1:14 Llalu Orpa mencium mertuanya itu minta diri, tetapi Rut tetap berpaut padanya. 1:15 Berkatalah Naomi: "Telah pulang iparmu kepada bangsanya dan kepada para allahnya; pulanglah mengikuti iparmu itu."
1:16 Tetapi kata Rut: "Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku;
1:22 Demikianlah Naomi pulang bersama-sama dengan Rut, perempuan Moab itu, menantunya, yang turut pulang dari daerah Moab. Dan sampailah mereka ke Betlehem pada permulaan musim menuai jelai.
Bacaan Injil: Mat. 22:34–40
Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia: “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”
Renungan
Cara Tuhan bekerja di tengah umat-Nya memang unik dan tidak dapat diduga. Di dalam kitab Hakim-Hakim, Tuhan bertindak tegas dan keras secara langsung menyikapi perselingkuhan rohani umat Israel. Namun dalam kitab Rut ini cara kerja Tuhan sangat berbeda.
Nama Elimelekh yang artinya "Allahku raja" seharusnya mencerminkan iman si pemilik nama. Kesalahan Elimelek adalah meninggalkan Bethlehem, walaupun ada kelaparan banyak orang tetap bertahan di Bethlehem, Bethlehem artinya adalah kota roti. Meninggalkan Betlehem berarti meninggalkan gudang makanan. Kesalahan berikutnya ia membawa Naomi, istrinya, beserta kedua anaknya meninggalkan Israel untuk menetap di Moab (ayat 1). Kedua anaknya kemudian menikah dengan perempuan Moab (ayat 4). Padahal Israel harus menjaga kemurnian iman dengan tidak mengawini bangsa penyembah berhala. Seiring berjalannya waktu, Naomi lalu menjadi janda, karena suaminya meninggal. Kedua anaknya pun kemudian menyusul suaminya. Betapa sedihnya menjadi janda di negeri orang. Tak ada lagi yang dapat menjadi sandaran hidup. Sampai akhirnya, Naomi memutuskan untuk kembali ke Israel karena ia mendengar "TUHAN telah memperhatikan umat-Nya dan memberikan makanan kepada mereka" (ayat 6). Itulah saat iman mekar merespons kebaikan Allah yang mulai disadari. Meski demikian, Naomi tidak egois. Ia membebaskan kedua menantunya dari keterikatan dengan dia, toh kedua anaknya telah tiada.
Tindakan Orpa pulang ke rumah orang tuanya sangat wajar menurut ukuran dunia. Ia taat pada perintah mertuanya dan memang sudah tidak terikat dengan Naomi. Namun tindakan Rut melampaui itu karena ia melihat dengan kaca mata iman (ayat 16-17) yang memandang bukan kepada situasi yang tak berpengharapan, seperti yang Naomi lihat (ayat 11-13). Iman Naomi pun bergumul, bertumbuh mengatasi apa yang ia sedang rasakan (ayat 13b, 20-21).
Baik iman yang polos seperti Rut maupun yang bergumul seperti Naomi, kedua-duanya Tuhan terima. Yang penting fokus pada Tuhan. Dekatkan diri pada-Nya agar Saudara bisa melihat dan menembus kabut kehidupan kepada Allah pemilik kehidupan ini.
Injil hari ini mengupas tentang menaati hukum Allah tanpa kasih adalah kehampaan.
Seorang istri pada awalnya tidak mencintai suaminya, tetapi terpaksa menikah karena perjodohan kedua orang- tua mereka. Setiap hari ia hanya melayani suaminya karena kewajibannya sebagai istri. Namun suaminya ini sangat mencintai istrinya dan cintanya ternyata mengubah sikap istrinya. Lama kelamaan sang istri jatuh cinta juga kepada suaminya. Sejak itulah ia tidak lagi melayani suaminya karena kewajiban tetapi karena cintanya. Kedua pasangan suami istri ini tidak lagi hidup dalam kehampaan yang dipenuhi kewajiban, karena bunga-bunga kasih sayang yang mendasari kehidupan mereka berdua.
Pertanyaan seorang ahli Taurat yang bermaksud menyudutkan Yesus karena tidak satu pun dari hukum Musa yang mendapatkan prioritas lebih tinggi untuk ditaati (36). Yesus tidak dapat dicobai melalui pertanyaan apa pun, sebaliknya Ia menggiring ahli Taurat ini kepada hakikat ketaatan kepada Pemberi Hukum Taurat. Yang penting bukan melakukan hurufiah hukum-Nya, tetapi bagaimana hakikat menaati hukum-Nya dalam rangka menaati-Nya. Hukum-hukum yang Allah berikan adalah mencerminkan hakikat-Nya sendiri, yakni KASIH dan bukan kewajiban. Itulah sebabnya menaati hukum-Nya karena kewajiban akan terasa berat dan hampa. Kasih kepada Allah itulah yang menjadi dasar ketaatan kita kepada hukum-Nya.
Yesus mengajarkan bahwa kita harus mengasihi Tuhan dengan segenap totalitas kehidupan (37), artinya tidak sedikit pun kita korupsii bagi kesenangan, kepentingan, dan keuntungan diri sendiri. Ketika kita tidak sepenuhnya menyatakan kasih kepada Allah, sesungguhnya kita telah gagal mengasihi, karena Allah menuntut kasih sepenuh hati. Oleh karena itu mengasihi sesama pun sebagai wujud kasih kita kepada Tuhan, dengan sepenuh totalitas kehidupan juga (39). Prinsipnya tidaklah dapat dipisahkan antara mengasihi Tuhan dan sesama.
Dalam Injil hari ini, Yesus mengemukakan hukum yang paling utama, yakni mengasihi Tuhan dan sesama. Keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat. Cinta kepada Tuhan bisa diwujudkan dalam cinta kepada sesama. Bagaimana mungkin seseorang mencintai Tuhan yang tidak kelihatan dan membenci manusia yang kelihatan. Orang mesti mencinta sesama dulu sebelum Dia mencintai Tuhan. Sebaliknya, cinta kepada sesama mesti mengalir dari cinta kepada Allah. Pada kedua hukum bergantung semua hukum lainnya.
Renungkan: Kasih kepada Tuhan, sesama, dan diri sendiri, adalah kasih yang utuh dari segenap totalitas kehidupan kita, karena semuanya adalah wujud kasih kita kepada Dia. Jikalau Saudara mengalami kehampaan padahal telah berusaha mentaati hukum-Nya, milikilah kasih sebagai dasar ketaatan kepada-Nya!
Doa: Tuhan, mampukan diriku untuk mencintai-Mu, di dalam diri sesama, teristimewa di dalam diri mereka yang miskin dan menderita. Amin.
St. Filipus Benizi
Bacaan I: Rut. 1:1.3–6.14b–16.22
Rut dan Naomi
1:1 Pada zaman para hakim memerintah ada kelaparan di tanah Israel. Lalu pergilah seorang dari Betlehem-Yehuda beserta isterinya dan kedua anaknya laki-laki ke daerah Moab untuk menetap di sana sebagai orang asing.
1:3 Kemudian matilah Elimelekh, suami Naomi, sehingga perempuan itu tertinggal dengan kedua anaknya. 1:4 Keduanya mengambil perempuan Moab: yang pertama bernama Orpa, yang kedua bernama Rut; dan mereka diam di situ kira-kira sepuluh tahun lamanya. 1:5 Lalu matilah juga keduanya, yakni Mahlon dan Kilyon, sehingga perempuan itu kehilangan kedua anaknya dan suaminya. 1:6 Kemudian berkemaslah ia dengan kedua menantunya dan ia pulang dari daerah Moab, sebab di daerah Moab ia mendengar bahwa TUHAN telah memperhatikan umat-Nya dan memberikan makanan kepada mereka.
1:14 Llalu Orpa mencium mertuanya itu minta diri, tetapi Rut tetap berpaut padanya. 1:15 Berkatalah Naomi: "Telah pulang iparmu kepada bangsanya dan kepada para allahnya; pulanglah mengikuti iparmu itu."
1:16 Tetapi kata Rut: "Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku;
1:22 Demikianlah Naomi pulang bersama-sama dengan Rut, perempuan Moab itu, menantunya, yang turut pulang dari daerah Moab. Dan sampailah mereka ke Betlehem pada permulaan musim menuai jelai.
Bacaan Injil: Mat. 22:34–40
Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia: “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”
Renungan
Cara Tuhan bekerja di tengah umat-Nya memang unik dan tidak dapat diduga. Di dalam kitab Hakim-Hakim, Tuhan bertindak tegas dan keras secara langsung menyikapi perselingkuhan rohani umat Israel. Namun dalam kitab Rut ini cara kerja Tuhan sangat berbeda.
Nama Elimelekh yang artinya "Allahku raja" seharusnya mencerminkan iman si pemilik nama. Kesalahan Elimelek adalah meninggalkan Bethlehem, walaupun ada kelaparan banyak orang tetap bertahan di Bethlehem, Bethlehem artinya adalah kota roti. Meninggalkan Betlehem berarti meninggalkan gudang makanan. Kesalahan berikutnya ia membawa Naomi, istrinya, beserta kedua anaknya meninggalkan Israel untuk menetap di Moab (ayat 1). Kedua anaknya kemudian menikah dengan perempuan Moab (ayat 4). Padahal Israel harus menjaga kemurnian iman dengan tidak mengawini bangsa penyembah berhala. Seiring berjalannya waktu, Naomi lalu menjadi janda, karena suaminya meninggal. Kedua anaknya pun kemudian menyusul suaminya. Betapa sedihnya menjadi janda di negeri orang. Tak ada lagi yang dapat menjadi sandaran hidup. Sampai akhirnya, Naomi memutuskan untuk kembali ke Israel karena ia mendengar "TUHAN telah memperhatikan umat-Nya dan memberikan makanan kepada mereka" (ayat 6). Itulah saat iman mekar merespons kebaikan Allah yang mulai disadari. Meski demikian, Naomi tidak egois. Ia membebaskan kedua menantunya dari keterikatan dengan dia, toh kedua anaknya telah tiada.
Tindakan Orpa pulang ke rumah orang tuanya sangat wajar menurut ukuran dunia. Ia taat pada perintah mertuanya dan memang sudah tidak terikat dengan Naomi. Namun tindakan Rut melampaui itu karena ia melihat dengan kaca mata iman (ayat 16-17) yang memandang bukan kepada situasi yang tak berpengharapan, seperti yang Naomi lihat (ayat 11-13). Iman Naomi pun bergumul, bertumbuh mengatasi apa yang ia sedang rasakan (ayat 13b, 20-21).
Baik iman yang polos seperti Rut maupun yang bergumul seperti Naomi, kedua-duanya Tuhan terima. Yang penting fokus pada Tuhan. Dekatkan diri pada-Nya agar Saudara bisa melihat dan menembus kabut kehidupan kepada Allah pemilik kehidupan ini.
Injil hari ini mengupas tentang menaati hukum Allah tanpa kasih adalah kehampaan.
Seorang istri pada awalnya tidak mencintai suaminya, tetapi terpaksa menikah karena perjodohan kedua orang- tua mereka. Setiap hari ia hanya melayani suaminya karena kewajibannya sebagai istri. Namun suaminya ini sangat mencintai istrinya dan cintanya ternyata mengubah sikap istrinya. Lama kelamaan sang istri jatuh cinta juga kepada suaminya. Sejak itulah ia tidak lagi melayani suaminya karena kewajiban tetapi karena cintanya. Kedua pasangan suami istri ini tidak lagi hidup dalam kehampaan yang dipenuhi kewajiban, karena bunga-bunga kasih sayang yang mendasari kehidupan mereka berdua.
Pertanyaan seorang ahli Taurat yang bermaksud menyudutkan Yesus karena tidak satu pun dari hukum Musa yang mendapatkan prioritas lebih tinggi untuk ditaati (36). Yesus tidak dapat dicobai melalui pertanyaan apa pun, sebaliknya Ia menggiring ahli Taurat ini kepada hakikat ketaatan kepada Pemberi Hukum Taurat. Yang penting bukan melakukan hurufiah hukum-Nya, tetapi bagaimana hakikat menaati hukum-Nya dalam rangka menaati-Nya. Hukum-hukum yang Allah berikan adalah mencerminkan hakikat-Nya sendiri, yakni KASIH dan bukan kewajiban. Itulah sebabnya menaati hukum-Nya karena kewajiban akan terasa berat dan hampa. Kasih kepada Allah itulah yang menjadi dasar ketaatan kita kepada hukum-Nya.
Yesus mengajarkan bahwa kita harus mengasihi Tuhan dengan segenap totalitas kehidupan (37), artinya tidak sedikit pun kita korupsii bagi kesenangan, kepentingan, dan keuntungan diri sendiri. Ketika kita tidak sepenuhnya menyatakan kasih kepada Allah, sesungguhnya kita telah gagal mengasihi, karena Allah menuntut kasih sepenuh hati. Oleh karena itu mengasihi sesama pun sebagai wujud kasih kita kepada Tuhan, dengan sepenuh totalitas kehidupan juga (39). Prinsipnya tidaklah dapat dipisahkan antara mengasihi Tuhan dan sesama.
Dalam Injil hari ini, Yesus mengemukakan hukum yang paling utama, yakni mengasihi Tuhan dan sesama. Keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat. Cinta kepada Tuhan bisa diwujudkan dalam cinta kepada sesama. Bagaimana mungkin seseorang mencintai Tuhan yang tidak kelihatan dan membenci manusia yang kelihatan. Orang mesti mencinta sesama dulu sebelum Dia mencintai Tuhan. Sebaliknya, cinta kepada sesama mesti mengalir dari cinta kepada Allah. Pada kedua hukum bergantung semua hukum lainnya.
Renungkan: Kasih kepada Tuhan, sesama, dan diri sendiri, adalah kasih yang utuh dari segenap totalitas kehidupan kita, karena semuanya adalah wujud kasih kita kepada Dia. Jikalau Saudara mengalami kehampaan padahal telah berusaha mentaati hukum-Nya, milikilah kasih sebagai dasar ketaatan kepada-Nya!
Doa: Tuhan, mampukan diriku untuk mencintai-Mu, di dalam diri sesama, teristimewa di dalam diri mereka yang miskin dan menderita. Amin.



0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !