Ada seorang pengembara tiba di sebuah negeri.. Orang itu mendengar ada seorang bijaksana di negeri itu dan ingin menemuinya. Pria bijaksana itu terkenal saleh dan baik hati, sehingga sangat dikasihi banyak orang. Karenanya tidak sulit menemukan pria bijaksana itu. Ketika pengembara itu bertanya dimana rumah pria bijaksana itu, setiap orang yang ditemuinya langsung menunjuk ke arah ujung perkampungan dimana berdiri sebuah gubuk reyot. Ketika ia mengetuk pintu gubuk itu, muncul seorang pria tua bersahaja yang mempersilahkan ia masuk. Pengembara itu sangat terkejut mendapati bahwa pria bijaksana itu tinggal di gubuk reyot yang isi rumahnya hanya sebuah meja, sebuah kursi, satu kompor dan alat memasak saja. Pengembara menganggap rumah pria bijaksana itu sungguh tidak layak untuk didiami. Karena merasa tidak nyaman, pengembara itu bertanya, "Dimana perabot rumah anda?" Orang tua tadi balik bertanya dengan lembut, "Mana milik anda?" Jawab pengembara, "Tentu saja di rumah saya, khan saya sedang merantau, tidak mungkin saya membawa semua perabotanku." Sahut pria bijaksana, "Saya juga, saya khan sedang merantau di dunia ini. Saya tidak berasal dari dunia ini."
1 Petrus 2:11 "Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa."
Apakah kita sadar bahwa kita sebenarnya perantau di dunia ini? Rumah kita adalah di sorga, dimana Yesus Kristus berada dan sedang menyiapkannya bagi kita.
Yohanes 14:2 "Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu."
Banyak orang saat ini melupakan bahwa diri mereka adalah perantau sehingga mereka menyibukkan diri mengumpulkan harta di dunia ini. Padahal akhirnya semua harta di dunia itu tidak dapat mereka bawa ketika tiba saatnya untuk pulang ke rumah Bapa di sorga.
Amatlah bijak bila masing-masing kita bisa menyadari bahwa kita adalah perantau di dunia ini. Gunakanlah harta duniawi ini untuk menghasilkan kekayaan sorgawi.
Matius 6:19-20 "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya."
"Tetapi jagalah, supaya kebebasanmu ini jangan menjadi batu sandungan bagi mereka yang lemah.”
Kita adalah orang Kristen, kita harus menjadi teladan yang baik bagi orang lain dalam segala perkara, bahkan dalam hal rekreasi pun jangan sampai kita menjadi batu sandungan orang lain. Kita hidup untuk Tuhan, tetapi kita juga hidup untuk saudara; kita bukan hidup untuk diri sendiri. Karena itu, kita tidak boleh hanya menghiraukan diri sendiri tanpa menghiraukan orang lain. Anda tidak boleh menggerutu, “Mengapa mereka mau melihat saya?” Anda harus ingat, jika mereka tidak melihat Anda, siapa yang harus mereka lihat? Mereka pasti melihat Anda. Kalau kota dibangun di atas gunung, siapa yang tidak menampaknya? Sudah tentu tertampak! Karena itu, bagaimanapun perasaan kita, kita harus menghiraukan pengaruh dan akibatnya bila perbuatan-perbuatan kita itu dilihat oleh saudara-saudara muda. Apakah perkara-perkara yang kita lakukan di sini akan menyebabkan orang lain tersandung atau tidak? Anda adalah anak-anak Allah, telah percaya Tuhan, maka sejak sekarang Anda harus mempunyai perasaan yang peka dan halus. Anda harus menyadari bahwa Anda tidak saja bertanggung jawab kepada Allah, juga kepada saudara saudari muda. Jadi dalam banyak perkara kita harus memperhatikan bagaimana sebenarnya sangkaan dan perasaan orang-orang yang lemah imannya. Jangan kita menjadi batu sandungan orang-orang yang lemah itu. Perhatikan, Tuhan tidak mengatakan jangan menjadi batu sandungan orang yang kuat, melainkan jangan menjadi batu sandungan orang yang lemah. Walaupun kita tahu bahwa berhala-berhala itu tidak terhitung apa-apa, tetapi demi kelemahan hati nurani mereka, lebih baik kita tidak pergi ke situ. Banyak perkara yang boleh kita lakukan, tetapi tidak semuanya berguna. Itulah sebabnya semua perilaku kita harus hati-hati, lebih berhati-hati lebih baik. Hendaklah kita dengan hati-hati selalu belajar menempuh jalan yang wajar.
PB: 1 Kor. 8 PL: Mzm. 69 – 72 Rawa lumpur yang dalam
Ayat Hafalan 1 Kor. 9:16 “Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.”
Jadwal Baca Pembinaan Dasar Judul: Teman Halaman: 6(8) – 11(22)
1. Moga makin cinta pada Tuhan! Kabulkan ya, Tuhan, ni-at hamba. Makin cinta Tuhan, sungguh i-ngin hamba, Makin cinta pada Tuhan!
2. Dulu kejar du-nia dan mewahnya; Kini cari Tuhan, dah'ga lenyap. Tuntutku sekarang: makin cinta Tuhan, Makin cinta pada Tuhan!
3. Bi-ar duka lara, u-jian 'nimpa; Utusan-Mu indah, sedap, mesra! Ku nyanyi kar'nanya: makin cinta Tuhan, Makin cinta pada Tuhan!
4. Bila nafas, sua-ra, mu-lai renta, Irama hatiku tetap sama, Minat pun tak kurang, makin cinta Tuhan, Makin cinta pada Tuhan!
Miliki segera renungan audio Firman Tuhan : • AHVN (Arus Hayat Voice Note) total 127 seri • PKVM (Pencari Kristus Voice Messenger) total 21 seri + 9 seri Teladan Iman
Silahkan reQuest dg cara : • ReQuest AHVN seri 127 • ReQuest PKVM seri 21
Silahkan ReQuest jg renungan audio seri Teladan Iman: 1. PKVM_Teladan_Iman_Hudson_Taylor_01_Penyelamatan_Kristus
Manusia adalah inti penciptaan Allah. Penyatuan segala sesuatu di bawah satu kepala di dalam Kristus terjadi ketika Allah Tritunggal menggarapkan diri-Nya sendiri ke dalam manusia sebagai inti penciptaan-Nya. Menurut Efesus 1:22, Allah telah menaklukkan segala sesuatu di bawah kaki Kristus yang telah bangkit dan naik ke surga dan “Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada.” Kata “kepada” yang pendek ini sangat penting, karena menyiratkan semacam transmisi. Apa saja yang telah dicapai dan diperoleh Kristus, Sang Kepala, kini telah ditransmisikan kepada Tubuh-Nya, gereja. Melalui transmisi ini, gereja mengambil bagian atas semua yang dicapai Kristus. Gereja mengambil bagian atas kebangkitan-Nya dari antara orang mati, atas duduknya Dia di tempat yang tinggi, atas ditaklukkannya segala sesuatu di bawah kaki-Nya, dan atas jabatan-Nya sebagai Kepala atas segala sesuatu. Ketika unsur Kristus ditransmisikan ke dalam gereja, segala yang telah Ia rampungkan, yang Ia capai dan peroleh, juga telah ditransmisikan ke dalam gereja. Melalui transmisi yang ajaib ini kita menjadi Tubuh Kristus, kepenuhan Dia yang memenuhi semua di dalam segala sesuatu. Kemudian, sebagai Tubuh-Nya, kita akan menjadi perantara yang olehnya Allah akan mempersatukan segala sesuatu di bawah satu kepala di dalam Kristus. Faktor yang teramat penting di sini ialah transmisi ilahi, yakni transfusi Kristus ke dalam diri kita.
Dalam Efesus 3, dari pengalaman kita nampak bahwa Kristus yang adalah Kepala dari segala sesuatu sebenarnya telah ditransmisikan ke dalam kita. Menurut ayat 17, Kristus diam (berumah) di dalam hati kita. Kristus berumah di dalam hati kita berarti Ia ditransmisikan ke dalam kita sepenuhnya. Kita boleh mengatakan bahwa hati kita seperti baterai atau aki, dan Kristus seperti listrik surgawi yang ditransmisikan ke dalam aki itu. Dengan cara demikianlah, aki akan disetrum dengan apa adanya Kristus dan dengan apa yang telah dicapai dan diperoleh-Nya. Dengan transmisi atau transfusi secara batiniah ini, Kristus akan berumah di dalam hati kita. Jadi, transmisi surgawilah yang membawa Kristus ke dalam hati kita. Sebagaimana darah beredar dari jantung ke seluruh tubuh jasmani kita, begitu pula Kristus yang telah ditransmisikan ke dalam hati kita secara rohani akan meluas ke dalam setiap bagian manusia batiniah kita. Melalui transmisi dan perluasan Kristus di batin kita, Allah akan mempersatukan segala sesuatu di bawah satu kepala di dalam Kristus melalui gereja.
Kita percaya pada tahun-tahun yang mendatang Allah akan lebih banyak mempersatukan kita di bawah satu kepala. Sebagai akibatnya, kondisi gereja akan menjadi jauh lebih baik daripada hari ini. Akhirnya, dalam ekonomi kegenapan waktu, alam semesta akan dipersatukan di bawah satu kepala di dalam Kristus melalui gereja. Kita telah sering mengatakan tentang pembangunan gereja, tetapi penekanan dalam berita ini ialah dipersatukan di bawah satu kepala di dalam Kristus melalui transmisi ilahi. Semakin Kristus ditransmisikan ke dalam kita, proses penyatuan di bawah satu kepala ini akan semakin maju. Saya yakin sekali, jika Tuhan “menunda” kedatangan-Nya kembali, lebih banyak orang Kristen akan disatukan di bawah satu kepala dalam Kristus melalui Tubuh-Nya. Orang-orang dunia akan mengagumi penyatuan di bawah satu kepala ini, sebab semakin mereka berusaha mempersatukan diri melalui organisasi seperti Perserikatan Bangsa-bangsa, mereka menjadi semakin terpecah belah. Suatu hari, bumi akan nampak tidak saja ada persatuan, juga bukan hanya pembangunan, melainkan penyatuan di bawah satu kepala di dalam Kristus. Kristus adalah Kepala di atas segala sesuatu bagi gereja, dan kini Dia sedang dalam proses menyatukan segala sesuatu di bawah satu Kepala di dalam Kristus melalui gereja. Ini adalah yang sedang Tuhan lakukan di antara kita hari ini.
9:6 Kemudian berkumpullah seluruh warga kota Sikhem dan seluruh Bet-Milo; mereka pergi menobatkan Abimelekh menjadi raja dekat pohon tarbantin di tugu peringatan yang di Sikhem. 9:7 Setelah hal itu dikabarkan kepada Yotam, pergilah ia ke gunung Gerizim dan berdiri di atasnya, lalu berserulah ia dengan suara nyaring kepada mereka: "Dengarkanlah aku, kamu warga kota Sikhem, maka Allah akan mendengarkan kamu juga. 9:8 Sekali peristiwa pohon-pohon pergi mengurapi yang akan menjadi raja atas mereka. Kata mereka kepada pohon zaitun: Jadilah raja atas kami! 9:9 Tetapi jawab pohon zaitun itu kepada mereka: Masakan aku meninggalkan minyakku yang dipakai untuk menghormati Allah dan manusia, dan pergi melayang di atas pohon-pohon? 9:10 Lalu kata pohon-pohon itu kepada pohon ara: Marilah, jadilah raja atas kami! 9:11 Tetapi jawab pohon ara itu kepada mereka: Masakan aku meninggalkan manisanku dan buah-buahku yang baik, dan pergi melayang di atas pohon-pohon? 9:12 Lalu kata pohon-pohon itu kepada pohon anggur: Marilah, jadilah raja atas kami! 9:13 Tetapi jawab pohon anggur itu kepada mereka: Masakan aku meninggalkan air buah anggurku, yang menyukakan hati Allah dan manusia, dan pergi melayang di atas pohon-pohon? 9:14 Lalu kata segala pohon itu kepada semak duri: Marilah, jadilah raja atas kami! 9:15 Jawab semak duri itu kepada pohon-pohon itu: Jika kamu sungguh-sungguh mau mengurapi aku menjadi raja atas kamu, datanglah berlindung di bawah naunganku; tetapi jika tidak, biarlah api keluar dari semak duri dan memakan habis pohon-pohon aras yang di gunung Libanon.
Bacaan Injil: Mat. 20:1–16a
Perumpamaan tentang orang-orang upahan di kebun anggur 20:1 "Adapun hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya. 20:2 Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari, ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya. 20:3 Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar. 20:4 Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Dan merekapun pergi. 20:5 Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar pula dan melakukan sama seperti tadi. 20:6 Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula, lalu katanya kepada mereka: Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari? 20:7 Kata mereka kepadanya: Karena tidak ada orang mengupah kami. Katanya kepada mereka: Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku. 20:8 Ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya: Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka, mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu. 20:9 Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar. 20:10 Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu, sangkanya akan mendapat lebih banyak, tetapi merekapun menerima masing-masing satu dinar juga. 20:11 Ketika mereka menerimanya, mereka bersungut-sungut kepada tuan itu, 20:12 katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari. 20:13 Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka: Saudara, aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau. Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari? 20:14 Ambillah bagianmu dan pergilah; aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu. 20:15 Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah engkau, karena aku murah hati? 20:16 Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir."
Renungan
Meskipun Gideon adalah pemimpin Israel, tetapi ia tidak mau memerintah sebagai raja (Hak. 8:23). Allah pun tidak menetapkan sistem pemerintahan monarki bagi Israel. Allah saja yang menjadi Raja atas Israel.
Akan tetapi, Abimelekh berbeda dari ayahnya. Ia justru menginginkan kedudukan yang ditempati Allah itu. Menya-dari posisinya yang lemah karena ia hanyalah anak gundik (Hak. 8:31), Abimelekh mencari dukungan saudara-saudara dari pihak ibunya, yang berada di Sikhem (salah satu kota di Kanaan). Tentu saja orang-orang Sikhem lebih suka bila Abimelekh yang menjadi raja, daripada bila orang Israel sendiri yang menduduki jabatan tersebut. Itu akan menguntungkan posisi mereka. Kepentingan diri telah membuat orang Sikhem mendukung Abimelekh, meski mereka tidak tahu apakah Abimelekh benar-benar seorang pemimpin bangsa sejati. Selanjutnya, mereka pun memberi dukungan dan menobatkan Abimelekh menjadi raja (ayat 6). Bagi Abimelekh, semua itu masih belum cukup. Ia ingin memuluskan jalan menuju tahta dan mengamankan posisinya kelak. Sebab itu, dengan memakai orang-orang bayaran, Abimelekh tega membunuh 70 orang saudaranya seayah. Namun Yotam berhasil luput (ayat 5).
Yotam, yang berhasil melarikan diri, tidak tinggal diam. Ia memberi peringatan kepada orang-orang Sikhem. Melalui perumpamaan pemimpin pohon-pohon, ia ingin menyatakan bahwa Abimelekh adalah pemimpin yang nantinya akan menjadi bumerang, berbalik menyakiti rakyat yang telah mendukung dia (ayat 7-15). Bila ia adalah seorang yang baik dan berpotensi, ia tentu tidak akan bernafsu mewujudkan ambisi negatif melainkan akan memilih untuk berkarya bagi rakyat.
Memilih seorang pemimpin rakyat memang tidak bisa sembarangan. Perlu pertimbangan matang. Pilih pemimpin yang bukan hanya ingin menguntungkan diri sendiri atau kelompoknya, walau kita termasuk kelompok yang mendukung dia. Pertimbangkanlah pemimpin yang memiliki hati untuk kesejahteraan dan kemajuan rakyat.
Injil pada hari ini berbicara tentang anugerah Allah bukanlah upah. Sebagai ilustrasi, ada seorang anak asuh yang biasanya malas membantu orang-tuanya, tiba-tiba menjadi sangat rajin dan bersemangat membersihkan rumah. Di akhir minggu itu ibunya menemukan secarik kertas bertuliskan jumlah jam kerja dan sejumlah upah yang seharusnya diterima anaknya. Esok harinya anaknya terkejut karena menemukan balasan surat ibunya yang berisi daftar seluruh kebutuhan hidupnya sejak ia berusia 1 tahun: susu, makan, pakaian, uang jajan, sepatu, sekolah, tas, buku, dll. Anak ini tidak menyadari bahwa kesempatan menjadi anak dalam keluarga tersebut adalah anugerah, yang tidak dapat dibandingkan dengan upah sebesar apa pun.
Perumpamaan orang-orang upahan di kebun anggur pun mengajak kita berpikir tentang anugerah yang tidak dapat diperhitungkan seperti upah. Dikisahkan bahwa tuan rumah itu mencari pekerja untuk kebun anggurnya, menjelaskan bahwa dia sebagai pemilik kebun anggur dan dia yang berinisiatif mencari pekerja-pekerja, maka berapa pun upah yang diberikan kepada para pekerja sepenuhnya berdasarkan keputusannya. Kepada sekelompok pekerja pertama yang bekerja dari pagi hingga malam, ia sepakat memberi upah sedinar sehari. Kemudian ia berulang kali mendapati orang-orang yang menganggur dan ia meminta mereka bekerja di kebunnya. Mereka pasti tidak akan mendapatkan upah bila menganggur sepanjang hari, jadi kesempatan bekerja adalah anugerah. Ketika malam tiba, tuan rumah tersebut memberikan upah kepada setiap pekerja mulai dari yang terakhir sampai yang bekerja dari pagi. Para pekerja yang bekerja dari pagi sampai malam protes atas tindakan tuan tersebut karena memberikan upah yang sama kepada semua pekerja. Tuan rumah itu mengatakan bahwa mereka telah menerima sesuai kesepakatan, jadi protes mereka tidak beralasan. Jika yang mereka permasalahkan adalah upah yang diberikan kepada para pekerja lainnya, maka sepenuhnya itu adalah hak tuan tersebut, jadi ini pun tidak beralasan.
Keadilan sering diartikan sebagai memberikan kepada seseorang apa yang menjadi haknya. Tetapi, cinta kasih berarti memberikan kepada seseorang melebihi haknya. Hal seperti itulah yang dilakukan oleh Yesus dalam Injil hari ini. Dia memberikan orang yang masuk kerja terakhir melebihi haknya, tetapi dia tidak bertindak tidak adil terhadap orang-orang yang masuk kerja pertama karena dia memberikan kepada mereka sesuai dengan kesepakatan, yakni sedinar sehari.
Tetapi, lebih jauh perumpamaan ini merupakan kritik terhadap orang-orang Yahudi, sebagai bangsa terpilih, yang merasa memiliki privilese khusus dan menganggap rendah bangsa-bangsa lain. Yesus mau mengatakan bahwa keselamatan itu milik semua orang yang percaya kepada-Nya. Bagi kita orang-orang Kristen, perumpamaan ini merupakan sentilan terhadap rasa aman berlebihan sebagai orang yang diselamatkan dan menganggap rendah kelompok lain.
Renungkan: Demikianlah Allah yang murah hati, yang memberikan anugerah kepada siapa Dia mau memberikannya. Tak seorang pun memiliki hak untuk mempertanyakan keadilan-Nya, karena hidup kekal yang dimilikinya pun adalah anugerah-Nya. Masih adakah upah yang layak kita minta sebagai hasil pelayanan kita, bila kita menyadari bahwa kesempatan hidup dan melayani-Nya pun adalah anugerah-Nya?
Rut dan Naomi 1:1 Pada zaman para hakim memerintah ada kelaparan di tanah Israel. Lalu pergilah seorang dari Betlehem-Yehuda beserta isterinya dan kedua anaknya laki-laki ke daerah Moab untuk menetap di sana sebagai orang asing. 1:3 Kemudian matilah Elimelekh, suami Naomi, sehingga perempuan itu tertinggal dengan kedua anaknya. 1:4 Keduanya mengambil perempuan Moab: yang pertama bernama Orpa, yang kedua bernama Rut; dan mereka diam di situ kira-kira sepuluh tahun lamanya. 1:5 Lalu matilah juga keduanya, yakni Mahlon dan Kilyon, sehingga perempuan itu kehilangan kedua anaknya dan suaminya. 1:6 Kemudian berkemaslah ia dengan kedua menantunya dan ia pulang dari daerah Moab, sebab di daerah Moab ia mendengar bahwa TUHAN telah memperhatikan umat-Nya dan memberikan makanan kepada mereka. 1:14 Llalu Orpa mencium mertuanya itu minta diri, tetapi Rut tetap berpaut padanya. 1:15 Berkatalah Naomi: "Telah pulang iparmu kepada bangsanya dan kepada para allahnya; pulanglah mengikuti iparmu itu." 1:16 Tetapi kata Rut: "Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; 1:22 Demikianlah Naomi pulang bersama-sama dengan Rut, perempuan Moab itu, menantunya, yang turut pulang dari daerah Moab. Dan sampailah mereka ke Betlehem pada permulaan musim menuai jelai.
Bacaan Injil: Mat. 22:34–40
Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia: “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”
Renungan
Cara Tuhan bekerja di tengah umat-Nya memang unik dan tidak dapat diduga. Di dalam kitab Hakim-Hakim, Tuhan bertindak tegas dan keras secara langsung menyikapi perselingkuhan rohani umat Israel. Namun dalam kitab Rut ini cara kerja Tuhan sangat berbeda.
Nama Elimelekh yang artinya "Allahku raja" seharusnya mencerminkan iman si pemilik nama. Kesalahan Elimelek adalah meninggalkan Bethlehem, walaupun ada kelaparan banyak orang tetap bertahan di Bethlehem, Bethlehem artinya adalah kota roti. Meninggalkan Betlehem berarti meninggalkan gudang makanan. Kesalahan berikutnya ia membawa Naomi, istrinya, beserta kedua anaknya meninggalkan Israel untuk menetap di Moab (ayat 1). Kedua anaknya kemudian menikah dengan perempuan Moab (ayat 4). Padahal Israel harus menjaga kemurnian iman dengan tidak mengawini bangsa penyembah berhala. Seiring berjalannya waktu, Naomi lalu menjadi janda, karena suaminya meninggal. Kedua anaknya pun kemudian menyusul suaminya. Betapa sedihnya menjadi janda di negeri orang. Tak ada lagi yang dapat menjadi sandaran hidup. Sampai akhirnya, Naomi memutuskan untuk kembali ke Israel karena ia mendengar "TUHAN telah memperhatikan umat-Nya dan memberikan makanan kepada mereka" (ayat 6). Itulah saat iman mekar merespons kebaikan Allah yang mulai disadari. Meski demikian, Naomi tidak egois. Ia membebaskan kedua menantunya dari keterikatan dengan dia, toh kedua anaknya telah tiada.
Tindakan Orpa pulang ke rumah orang tuanya sangat wajar menurut ukuran dunia. Ia taat pada perintah mertuanya dan memang sudah tidak terikat dengan Naomi. Namun tindakan Rut melampaui itu karena ia melihat dengan kaca mata iman (ayat 16-17) yang memandang bukan kepada situasi yang tak berpengharapan, seperti yang Naomi lihat (ayat 11-13). Iman Naomi pun bergumul, bertumbuh mengatasi apa yang ia sedang rasakan (ayat 13b, 20-21).
Baik iman yang polos seperti Rut maupun yang bergumul seperti Naomi, kedua-duanya Tuhan terima. Yang penting fokus pada Tuhan. Dekatkan diri pada-Nya agar Saudara bisa melihat dan menembus kabut kehidupan kepada Allah pemilik kehidupan ini.
Injil hari ini mengupas tentang menaati hukum Allah tanpa kasih adalah kehampaan. Seorang istri pada awalnya tidak mencintai suaminya, tetapi terpaksa menikah karena perjodohan kedua orang- tua mereka. Setiap hari ia hanya melayani suaminya karena kewajibannya sebagai istri. Namun suaminya ini sangat mencintai istrinya dan cintanya ternyata mengubah sikap istrinya. Lama kelamaan sang istri jatuh cinta juga kepada suaminya. Sejak itulah ia tidak lagi melayani suaminya karena kewajiban tetapi karena cintanya. Kedua pasangan suami istri ini tidak lagi hidup dalam kehampaan yang dipenuhi kewajiban, karena bunga-bunga kasih sayang yang mendasari kehidupan mereka berdua.
Pertanyaan seorang ahli Taurat yang bermaksud menyudutkan Yesus karena tidak satu pun dari hukum Musa yang mendapatkan prioritas lebih tinggi untuk ditaati (36). Yesus tidak dapat dicobai melalui pertanyaan apa pun, sebaliknya Ia menggiring ahli Taurat ini kepada hakikat ketaatan kepada Pemberi Hukum Taurat. Yang penting bukan melakukan hurufiah hukum-Nya, tetapi bagaimana hakikat menaati hukum-Nya dalam rangka menaati-Nya. Hukum-hukum yang Allah berikan adalah mencerminkan hakikat-Nya sendiri, yakni KASIH dan bukan kewajiban. Itulah sebabnya menaati hukum-Nya karena kewajiban akan terasa berat dan hampa. Kasih kepada Allah itulah yang menjadi dasar ketaatan kita kepada hukum-Nya.
Yesus mengajarkan bahwa kita harus mengasihi Tuhan dengan segenap totalitas kehidupan (37), artinya tidak sedikit pun kita korupsii bagi kesenangan, kepentingan, dan keuntungan diri sendiri. Ketika kita tidak sepenuhnya menyatakan kasih kepada Allah, sesungguhnya kita telah gagal mengasihi, karena Allah menuntut kasih sepenuh hati. Oleh karena itu mengasihi sesama pun sebagai wujud kasih kita kepada Tuhan, dengan sepenuh totalitas kehidupan juga (39). Prinsipnya tidaklah dapat dipisahkan antara mengasihi Tuhan dan sesama.
Dalam Injil hari ini, Yesus mengemukakan hukum yang paling utama, yakni mengasihi Tuhan dan sesama. Keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat. Cinta kepada Tuhan bisa diwujudkan dalam cinta kepada sesama. Bagaimana mungkin seseorang mencintai Tuhan yang tidak kelihatan dan membenci manusia yang kelihatan. Orang mesti mencinta sesama dulu sebelum Dia mencintai Tuhan. Sebaliknya, cinta kepada sesama mesti mengalir dari cinta kepada Allah. Pada kedua hukum bergantung semua hukum lainnya.
Renungkan: Kasih kepada Tuhan, sesama, dan diri sendiri, adalah kasih yang utuh dari segenap totalitas kehidupan kita, karena semuanya adalah wujud kasih kita kepada Dia. Jikalau Saudara mengalami kehampaan padahal telah berusaha mentaati hukum-Nya, milikilah kasih sebagai dasar ketaatan kepada-Nya!
Doa: Tuhan, mampukan diriku untuk mencintai-Mu, di dalam diri sesama, teristimewa di dalam diri mereka yang miskin dan menderita. Amin.